Menikahlah, Bila tlah tiba waktunya...
jika Kita tak merasa bisa mencuci baju,menyetrika dan menyapu rumah, maka sewalah pembantu setelah menikah nanti, tapi jika kita tak merasa cukup sanggup menyewa pembantu, maka tundalah rencana menikah atau mulailah belajar melakukan aktivitas rumah tangga tadi.
Siang ini saya ingin menunaikan janji saya kepada seorang teman untuk menuliskan sesuatu terkait dengan pernikahan, semoga memberikan ppencerahan dan manfaat bagi yang membaca.
Kapan nikah...?tunggu apa lagi...?
Buat yang masih belum menikah pertanyaan diatas jelasa sangat menjengkelkan, karena tak ada topik lain yang pertama disebut selain hal tersebut. Sambil tersenyum getir kebanyakan akan menjawab InsyaAllah mohon doanya, yang lainnya mungkin akan menjawab duh belum ada calonnya, tapi bagi sosok-sosok yang oportunis maka jawabannya tak lain adalah May...,maybe oneday....
Yups, hal yang sama pernah saya alami juga, sumpah gak enak dan walaupun hanya sekedar bercanda tetapi terkesan memberikan penghakiman. Hahay, itu kurang lebih setahun yang lalu, Alhamdulillah kini tidak lagi, kecuali ada yang iseng menanyakan kapan nikah lagi....hahahaha.
Okay, talk about nikah....
Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 pengertian pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Mungkin sebagian besar dari kita sudah tahu dengan pengertian pernikahan seperti diatas. Ya, pernikahan adalah ikatan lahir dan batin antara pria dan wanita. Simple, tapi ada begitu banyak konsekuensi yang muncul dari ikatan lahir dan batin tersebut.
Bagi yang sedang ingin buru-buru (baca:kebelet) menikah, mungkin hal-hal berikut terkait dengan konsekuensi adanya ikatan lahir dan batin dalam pernikahan perlu dibaca dan renungkan.
Perkawinan bukan sekadar hubungan spiritual dan pelukan bergairah; perkawinan juga tiga kali makan sehari dan ingat membuang sampah.
Bagi yang hanya berpikir bahwa tujuan menikah yang paling utama adalah pemenuhan kebutuhan biologis rasanya perlu untuk mengkaji ulang tujuan tersebut. Come on, menikah bukan soal urusan ranjang semata kawan, menikah juga soal materi dan ekonomi. Sekedar cinta saja tak akan membuatmu hidup bahagia dalam sebuah biduk rumah tangga. Sebab cinta juga butuh makan, seperti halnya logika yang tak akan berjalan tanpa logistik.
Dulu sebelum menikah, ketika saya sedang mencuci piring seorang teman berkata "Makanya menikah, biar ada istri yang nyuci pring", atau ketika sedang mencuci baju ada saja kawan yang berceletuk "Nikag dong, biar ada yang nyuci baju" atau celetukan-celetukan lainnya seperti "punya sitri dong, biar ada yang masakin". Saya jadi berpikir, lha yang saya menikah itu untuk dapat istri atau pembantu?.
Sobat semua (khususnya para lelaki sekalian alam), tidak ada satu kalimat pun dalam buku pernikahan ataupun undang-undang perkawinan yang menyatakan bahwa ketika sudah menikah maka hal-hal terkait rumah tangga merupakan tanggungjawab istri. Tidak ada juga satu kalimat yang menyatakan bahwa aktivitas mencuci baju, cuci piring, memasak dan bersih-bersih rumah adalah sepenuhnya tugas istri. So, sekali waktu kita juga harus bersiap untuk membantu istri melakukan aktivitas rumah tangga. Pesan saya, jika kita tak merasa bisa mencuci baju,menyetrika dan menyapu rumah, maka sewalah pembantu setelah menikah nanti, tapi jika kita tak merasa cukup sanggup menyewa pembantu, maka tundalah rencana menikah atau mulailah belajar melakukan aktivitas rumah tangga tadi.
Setelah menikah, suami dan istri bak menjadi dua sisi dari sebuah uang logam; mereka hanya tidak bisa menghadap satu sama lain, tapi masih tetap tinggal bersama
Saya begitu meyukai kata "suami dan istri bak menjadi dua sisi dari sebuah uang logam; mereka hanya tidak bisa menghadap satu sama lain, tapi masih tetap tinggal bersama" karena menurut saya analogi tersebut benar adanya. Kehidupan rumah tangga tak sekedar bahagia saja yang ada, melainkan juga ada kerikil-kerikil yang akan menghambat perjalanannya. Misalkan pada saat masih bujang, di hari minggu kita dengan santainya bangun disiang hari. Ketika sudah menikah, kita tidak mungkin membiarkan istri berbenah rumah, memasak dan lain-lain sementara kita terlelap. Kecualikita adalah si raja tega. Hal-hal kecil seperti ini bisa menimbulkan pertengkaran-pertengakaran kecil yang berujung dengan ngambek (baca:merajuk). Nah, ketika ada kekesalan, boleh saja kita merajuk dan tidak bertegur sapa meskipun serumah, bahkan memalingkan muka ketika berpapasan, tapi ingat bahwa kalian adalah dua sisi mata uang logam, yang walaupun tidak saling berhadapan tetapi tetap satu kesatuan. Maka ketika kekesalan itu mereda, berusahalah untuk menyelasaikan masalah yang ada dengan baik.
Perkawinan harus menjadi duet, ketika seorang bernyanyi yang lain bertepuk tangan
Ketika sang suami bernyanyi maka sang istri bertepuk tangan atau bolehlah ikut berdendang, ketika suami berusaha maka istri memberikan dukungan atau bolehlah membantu jika bisa. Pun begitu sebaliknya, saling mendukung satu sama lain, sehingga baik istri maupun suami tidak pernah merasa sendirian. Sebab selalu ada pasangan yang mendampingi. Perkawinan adalah suatu ikatan yang memaksa kita untuk menyembunyikan kelemahan pasangan kita dimata orang lain, Perkawinan bukanlah aib istri yang jadi bahan gosipan dikalangan suami, perkawinan juga bukan istri yang membongkar aib sang suami dikala arisan berlangsung.
Perkawinan adalah memberi sesuatu yang tidak terlalu berguna pada saat pasangan berulang tahun
Terkadang, seiring berjalannya waktu, ada hal-hal kecil dan sepele yang begitu saja terlewatkan oleh kita namun begitu berarti bagi pasangan. Misalkan, kecupan kening saat berangkat bekerja, ucapan I Love You sebelum tidur, pujian atas masakan istri, atau pujian kepada suami ketika suami habis bercukur rambut. Bahkan ketika pasangan berulangtahun, berusahalah memberikan sesuatu untuk pasangan meskipun itu hanya sebatang SilverQ***n, percayalah bukan apa yang kita berikan yang penting bagi pasangan melainkan perhatian yang kita berikanlah yang besar artinya bagi pasangan.
Perkawinan adalah sebuah komunikasi dengan banyak kata dan ungkapan perasaan
Jika para entrepreneur berkata bahwa faktor utama dalam berusaha adalah lokasi, lokasi dan lokasi, maka bagi pasangan suami istri faktor utama yang mendukung kesuksesan dalam berumahtangga adalah komunikasi, komunikasi dan komunikasi. Maka berkomunikasilah...
Perkawinan adalah memiliki orang yang mengerti apa yang sedang kita sedihkan tanpakitamemberitahukannya terlebih dahulu
Bukan berarti kita dituntut untuk menjadi dukun atau ahli nujum, tapi berusahalah untuk peka terhadap perubahan sikap dan emosi psangan kita, sehingga kita dapat memberikan pertolongan pertama pada keretakan rumah tangga kita. Jangan jadi egois dan asyik dengan diri sendiri. Ingat kita tidak hidup sendiri setelah menikah
Perkawinan tak hanya menyatukan dua hati saja tetapi juga menyatukan dua keluarga besar yang berbeda
Harus dipahami bahwa ketika memutuskan menikah maka kita tidak hanya menikahi pasangan kita melainkan juga 'menikahi' keluarga psangan. Hal ini memberi konsekuensi bagi kita untuk selalu menjaga hubungan baik dengan anggota keluarga pasangan. Bersilaturahmilah sesekali, menyapalah ketika bertemu dijalan dan hadirilah acara-acara yang diadakan keluarga.
Pernikahan adalah mengalihkan dana yang bahkan lebih cepat dari mesin ATM
Saya percaya bahwa rezeki manusia sudah diatur oleh Tuhan dan saya juga percaya bahwa menikah membuka pinta rejeki yang lebih luas. Akan tetapi saya juga percaya dengan pasti bahwa pernikahan membutuhkan banyak uang. Maka jika kita tidak merasa cukup mampu untuk berusaha menghidupi keluarga maka tundalah keinginan untuk menikah. Mengingatkan menikah bermodalkan nekat hanya menyiksa diri kita dan pasangan yang kita cintai. Persiapkanlah keuangan secara matang sebelum memutuskan menikah.
Perkawinan yang bahagia adalah penyatuan dua orang yang bersedia saling memaafkan
Bagaimanapun, suatu kali pernikahan diiibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang tidak saling berhadapan tetapi tetap merupakan kesatuan. Semarah apapun kita pada pasangan, selayaknya tetaplah memberikan maaf pada pasangan ketika pasangan memintanya dengan penuh penyesalan dan sepenuh hati.
Pernikahan adalah satu-satunya perang dimana seseorang tidur dengan musuhnya.
Ya, ketika masalah datang dan tak terselesaikan dalam waktu singkat maka pendinginan mungkin diperlukan. saat pendinginan terjadi tidak seharusnya kita memutuskan untuk pergi dari rumah atau tidur ditempat lain, ada kalanya kita harus tidur dengan rasa kesal terhadap pasangan yang berbaring disamping kita. Sadarilah, hanya perkawinan yang memungkinkan seseorang untuk tidur dengan musuhnya.
Perkawinan adalah bertambah tua bersama-sama dengan orang yang kita sayangi
Menjadi tua itu pasti kawan, kita dan pasangan pasti juga akan menjadi tua secara fisik. Tak ada lagi tubuh atletis Six Pack suami yang dulu rajin bermain bola, yang tersisa hanyalah gumpalan lemak diperut yang menggelambir. Tak ada lagi Body sexy istri dimasa remaja, yang ada tinggal varises dipaha dan pinggul yang melebar. Hal itu pasti terjadi, tetapi bukankah ketika kita menikah maka kita telah berjanji untuk menerima pasangan apa adanya?
Namun dari sekian banyak hal terkait dengan perkawinan menurut saya yang paling utama bagi setiap manusia ketika hendak menikah adalah adanya pemahaman dan pengagungan terhadap makna menikah sebagai suatu ikatan yang sakral, yang punya konsekuensi dimata manusia lain dan juga Tuhan. Menyadari bahwa menikah adalah pertalian erat dua manusia hingga maut memisahkan. Menikah bukanlah suatu permainan yang ketika bosan boleh dicampakkan.
Akhirnya, Menikahlah kawan, bila waktunya tiba....
27 Oktober 2011
Afrizal, S.Pd
Disela menunggui istri yang sedang tak enak badan
(tak bermaksud menggurui, hanya memotivasi diri sendiri dan wujud kepedulian pada sesama sahabat yang belum dan ingin menikah)
Materi referensi:
http://halamanputih.wordpress.com/2011/10/19/perkawinan-kata-orang/
http://organisasi.org/arti-definisi-pengertian-perkawinan-pernikahan-dan-dasar-tujuan-nikah-kawin-manusia
Siang ini saya ingin menunaikan janji saya kepada seorang teman untuk menuliskan sesuatu terkait dengan pernikahan, semoga memberikan ppencerahan dan manfaat bagi yang membaca.
Kapan nikah...?tunggu apa lagi...?
Buat yang masih belum menikah pertanyaan diatas jelasa sangat menjengkelkan, karena tak ada topik lain yang pertama disebut selain hal tersebut. Sambil tersenyum getir kebanyakan akan menjawab InsyaAllah mohon doanya, yang lainnya mungkin akan menjawab duh belum ada calonnya, tapi bagi sosok-sosok yang oportunis maka jawabannya tak lain adalah May...,maybe oneday....
Yups, hal yang sama pernah saya alami juga, sumpah gak enak dan walaupun hanya sekedar bercanda tetapi terkesan memberikan penghakiman. Hahay, itu kurang lebih setahun yang lalu, Alhamdulillah kini tidak lagi, kecuali ada yang iseng menanyakan kapan nikah lagi....hahahaha.
Okay, talk about nikah....
Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 pengertian pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Mungkin sebagian besar dari kita sudah tahu dengan pengertian pernikahan seperti diatas. Ya, pernikahan adalah ikatan lahir dan batin antara pria dan wanita. Simple, tapi ada begitu banyak konsekuensi yang muncul dari ikatan lahir dan batin tersebut.
Bagi yang sedang ingin buru-buru (baca:kebelet) menikah, mungkin hal-hal berikut terkait dengan konsekuensi adanya ikatan lahir dan batin dalam pernikahan perlu dibaca dan renungkan.
Perkawinan bukan sekadar hubungan spiritual dan pelukan bergairah; perkawinan juga tiga kali makan sehari dan ingat membuang sampah.
Bagi yang hanya berpikir bahwa tujuan menikah yang paling utama adalah pemenuhan kebutuhan biologis rasanya perlu untuk mengkaji ulang tujuan tersebut. Come on, menikah bukan soal urusan ranjang semata kawan, menikah juga soal materi dan ekonomi. Sekedar cinta saja tak akan membuatmu hidup bahagia dalam sebuah biduk rumah tangga. Sebab cinta juga butuh makan, seperti halnya logika yang tak akan berjalan tanpa logistik.
Dulu sebelum menikah, ketika saya sedang mencuci piring seorang teman berkata "Makanya menikah, biar ada istri yang nyuci pring", atau ketika sedang mencuci baju ada saja kawan yang berceletuk "Nikag dong, biar ada yang nyuci baju" atau celetukan-celetukan lainnya seperti "punya sitri dong, biar ada yang masakin". Saya jadi berpikir, lha yang saya menikah itu untuk dapat istri atau pembantu?.
Sobat semua (khususnya para lelaki sekalian alam), tidak ada satu kalimat pun dalam buku pernikahan ataupun undang-undang perkawinan yang menyatakan bahwa ketika sudah menikah maka hal-hal terkait rumah tangga merupakan tanggungjawab istri. Tidak ada juga satu kalimat yang menyatakan bahwa aktivitas mencuci baju, cuci piring, memasak dan bersih-bersih rumah adalah sepenuhnya tugas istri. So, sekali waktu kita juga harus bersiap untuk membantu istri melakukan aktivitas rumah tangga. Pesan saya, jika kita tak merasa bisa mencuci baju,menyetrika dan menyapu rumah, maka sewalah pembantu setelah menikah nanti, tapi jika kita tak merasa cukup sanggup menyewa pembantu, maka tundalah rencana menikah atau mulailah belajar melakukan aktivitas rumah tangga tadi.
Setelah menikah, suami dan istri bak menjadi dua sisi dari sebuah uang logam; mereka hanya tidak bisa menghadap satu sama lain, tapi masih tetap tinggal bersama
Saya begitu meyukai kata "suami dan istri bak menjadi dua sisi dari sebuah uang logam; mereka hanya tidak bisa menghadap satu sama lain, tapi masih tetap tinggal bersama" karena menurut saya analogi tersebut benar adanya. Kehidupan rumah tangga tak sekedar bahagia saja yang ada, melainkan juga ada kerikil-kerikil yang akan menghambat perjalanannya. Misalkan pada saat masih bujang, di hari minggu kita dengan santainya bangun disiang hari. Ketika sudah menikah, kita tidak mungkin membiarkan istri berbenah rumah, memasak dan lain-lain sementara kita terlelap. Kecualikita adalah si raja tega. Hal-hal kecil seperti ini bisa menimbulkan pertengkaran-pertengakaran kecil yang berujung dengan ngambek (baca:merajuk). Nah, ketika ada kekesalan, boleh saja kita merajuk dan tidak bertegur sapa meskipun serumah, bahkan memalingkan muka ketika berpapasan, tapi ingat bahwa kalian adalah dua sisi mata uang logam, yang walaupun tidak saling berhadapan tetapi tetap satu kesatuan. Maka ketika kekesalan itu mereda, berusahalah untuk menyelasaikan masalah yang ada dengan baik.
Perkawinan harus menjadi duet, ketika seorang bernyanyi yang lain bertepuk tangan
Ketika sang suami bernyanyi maka sang istri bertepuk tangan atau bolehlah ikut berdendang, ketika suami berusaha maka istri memberikan dukungan atau bolehlah membantu jika bisa. Pun begitu sebaliknya, saling mendukung satu sama lain, sehingga baik istri maupun suami tidak pernah merasa sendirian. Sebab selalu ada pasangan yang mendampingi. Perkawinan adalah suatu ikatan yang memaksa kita untuk menyembunyikan kelemahan pasangan kita dimata orang lain, Perkawinan bukanlah aib istri yang jadi bahan gosipan dikalangan suami, perkawinan juga bukan istri yang membongkar aib sang suami dikala arisan berlangsung.
Perkawinan adalah memberi sesuatu yang tidak terlalu berguna pada saat pasangan berulang tahun
Terkadang, seiring berjalannya waktu, ada hal-hal kecil dan sepele yang begitu saja terlewatkan oleh kita namun begitu berarti bagi pasangan. Misalkan, kecupan kening saat berangkat bekerja, ucapan I Love You sebelum tidur, pujian atas masakan istri, atau pujian kepada suami ketika suami habis bercukur rambut. Bahkan ketika pasangan berulangtahun, berusahalah memberikan sesuatu untuk pasangan meskipun itu hanya sebatang SilverQ***n, percayalah bukan apa yang kita berikan yang penting bagi pasangan melainkan perhatian yang kita berikanlah yang besar artinya bagi pasangan.
Perkawinan adalah sebuah komunikasi dengan banyak kata dan ungkapan perasaan
Jika para entrepreneur berkata bahwa faktor utama dalam berusaha adalah lokasi, lokasi dan lokasi, maka bagi pasangan suami istri faktor utama yang mendukung kesuksesan dalam berumahtangga adalah komunikasi, komunikasi dan komunikasi. Maka berkomunikasilah...
Perkawinan adalah memiliki orang yang mengerti apa yang sedang kita sedihkan tanpakitamemberitahukannya terlebih dahulu
Bukan berarti kita dituntut untuk menjadi dukun atau ahli nujum, tapi berusahalah untuk peka terhadap perubahan sikap dan emosi psangan kita, sehingga kita dapat memberikan pertolongan pertama pada keretakan rumah tangga kita. Jangan jadi egois dan asyik dengan diri sendiri. Ingat kita tidak hidup sendiri setelah menikah
Perkawinan tak hanya menyatukan dua hati saja tetapi juga menyatukan dua keluarga besar yang berbeda
Harus dipahami bahwa ketika memutuskan menikah maka kita tidak hanya menikahi pasangan kita melainkan juga 'menikahi' keluarga psangan. Hal ini memberi konsekuensi bagi kita untuk selalu menjaga hubungan baik dengan anggota keluarga pasangan. Bersilaturahmilah sesekali, menyapalah ketika bertemu dijalan dan hadirilah acara-acara yang diadakan keluarga.
Pernikahan adalah mengalihkan dana yang bahkan lebih cepat dari mesin ATM
Saya percaya bahwa rezeki manusia sudah diatur oleh Tuhan dan saya juga percaya bahwa menikah membuka pinta rejeki yang lebih luas. Akan tetapi saya juga percaya dengan pasti bahwa pernikahan membutuhkan banyak uang. Maka jika kita tidak merasa cukup mampu untuk berusaha menghidupi keluarga maka tundalah keinginan untuk menikah. Mengingatkan menikah bermodalkan nekat hanya menyiksa diri kita dan pasangan yang kita cintai. Persiapkanlah keuangan secara matang sebelum memutuskan menikah.
Perkawinan yang bahagia adalah penyatuan dua orang yang bersedia saling memaafkan
Bagaimanapun, suatu kali pernikahan diiibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang tidak saling berhadapan tetapi tetap merupakan kesatuan. Semarah apapun kita pada pasangan, selayaknya tetaplah memberikan maaf pada pasangan ketika pasangan memintanya dengan penuh penyesalan dan sepenuh hati.
Pernikahan adalah satu-satunya perang dimana seseorang tidur dengan musuhnya.
Ya, ketika masalah datang dan tak terselesaikan dalam waktu singkat maka pendinginan mungkin diperlukan. saat pendinginan terjadi tidak seharusnya kita memutuskan untuk pergi dari rumah atau tidur ditempat lain, ada kalanya kita harus tidur dengan rasa kesal terhadap pasangan yang berbaring disamping kita. Sadarilah, hanya perkawinan yang memungkinkan seseorang untuk tidur dengan musuhnya.
Perkawinan adalah bertambah tua bersama-sama dengan orang yang kita sayangi
Menjadi tua itu pasti kawan, kita dan pasangan pasti juga akan menjadi tua secara fisik. Tak ada lagi tubuh atletis Six Pack suami yang dulu rajin bermain bola, yang tersisa hanyalah gumpalan lemak diperut yang menggelambir. Tak ada lagi Body sexy istri dimasa remaja, yang ada tinggal varises dipaha dan pinggul yang melebar. Hal itu pasti terjadi, tetapi bukankah ketika kita menikah maka kita telah berjanji untuk menerima pasangan apa adanya?
Namun dari sekian banyak hal terkait dengan perkawinan menurut saya yang paling utama bagi setiap manusia ketika hendak menikah adalah adanya pemahaman dan pengagungan terhadap makna menikah sebagai suatu ikatan yang sakral, yang punya konsekuensi dimata manusia lain dan juga Tuhan. Menyadari bahwa menikah adalah pertalian erat dua manusia hingga maut memisahkan. Menikah bukanlah suatu permainan yang ketika bosan boleh dicampakkan.
Akhirnya, Menikahlah kawan, bila waktunya tiba....
27 Oktober 2011
Afrizal, S.Pd
Disela menunggui istri yang sedang tak enak badan
(tak bermaksud menggurui, hanya memotivasi diri sendiri dan wujud kepedulian pada sesama sahabat yang belum dan ingin menikah)
Materi referensi:
http://halamanputih.wordpress.com/2011/10/19/perkawinan-kata-orang/
http://organisasi.org/arti-definisi-pengertian-perkawinan-pernikahan-dan-dasar-tujuan-nikah-kawin-manusia

Komentar
Posting Komentar