Antara Lagu, Cinta & Siswa
Ironisnya adalah orang tua sekarang bangga mempertontonkan
anaknya yang berusia balita bernyanyi dengan lantang.
"Ku hamil Duluan
Sudah tiga Bulan
Gara-gara pacaran tidurnya berduaan"
Beberapa hari ini tangan rasanya gatal ingin menuliskan uneg-uneg tentang perilaku siswa yang makin hari maki bikin geleng-geleng kepala. Mumpung ada waktu luang, saatnya melampiaskan semua yang ada dikepala lewat tulisan ini, semoga ada manfaatnya.
Menurut Teori Tabularasa dari John Lock, dikatakan bahwa anak yang baru dilahirkan itu dapat diumpamakan sebagai kertas putih yang belum ditulisi (a sheet of white paper avoid of all characters). Pendapat John Locke seperti di atas dapat disebut juga empirisme, yaitu suatu aliran atau paham yang berpendapat bahwa segala kecakapan dan pengetahuan manusia itu timbul dari pengalaman (empiri) yang masuk melalui alat indera. Mengacu pada teori tersebut maka bisa diartikan bahwa sifat dan kepribadian serta perilaku seorang anak sangat besara dipengaruhi oleh lingkungannya.
Berawal dari teori tersebut saya ingin menganalisis lingkungan seperti apa yang mendasari terbentuknya sifat dan perilaku siswa dewasa ini khususnya cara pandang mereka dalam memandang cinta. Saya memulainya dari pertanyaan, Hal apa yang begitu identik dengan siswa dewasa ini, yang ada didekat siswa, selalu dibawa siswa dan hal-hal yang erat kaitannya dengan siswa.
Hal pertama yang terpikirkan oleh saya adalah musik. Saya kira musik merupakan kebutuhan pokok ketiga bagi siswa setelah sandang, pangan dan papan. bahasa mereka 'Gak asik gak ada musik', musik adalah sarana eksistensi bagi remaja, wujud kebahagian dan teman dikala kesepian, yang terpenting adalah musik merupakan pelarian terdekat dari masalah-masalah yang mereka hadapi. Musik dan bernyanyi adalah bagian tak terpisahkan dari dunia remaja yang penuh dengan kedinamisan berpikir dan masa pencarian jati diri. Meminjam sedikit jargon sebuah iklan, With Music, Life is Never Flat.
Beruntungnya, saat ini dunia musik Indonesia berkembang sangat pesat. Diawali dengan lahirnya band fenomenal yang berhasil menjual jutaan copy albumnya di 1999, Sheila On 7 dan disusul oleh Band Padi tak lama kemudian, dunia musik Indonesia seakan tak henti memunculkan penyanyi-penyanyi baru dari berbagai genre musik. Hal ini tentu saja membuat para penikmat musik serasa disurga dengan berbagai pilihan lagu dan genre yang berbeda dari penyanyi-penyayi Indonesia.
Sayangnya, ketatnya persaingan di dunia musik membuat para musisi kita seolah kehabisan ide untuk membuat lagu (baca:lirik) yang berkualitas dan layak untuk didengar. Ketatnya persaingan pula lah yang mungkin memaksa para musisi tersebut untuk memacu diri agar dapat membuat lagu-lagu dengan lirik-lirik yang mampu mengusik para pendengarnya untuk mendengar, menyukai dan akhirnya membeli lagunya.
Pada akhirnya, lirik lagu-lagu yang muncul tahun-tahun belakangan ini sudah mengabaikan estetika dan norma yang berlaku dimasyarakat yang ada. Tema-tema yang dulunya tabu untuk dibicarakan, kini diangkat dengan mudah ke dalam lagu. Tema-tema percintaan tingkat tinggi, perselingkuhan dan kesombongan merupakan tema yang sentral dari para pencipta lagu. Ambilla contoh Lagu Cinta Satu Malam-Melinda, Lakukan Demi Cinta-Mahadewi, Jadikan Aku Yang Kedua-Astrid atau lagu Selir Hati-TRIAD.
Musik identik dengan siswa, dari siswa SD-SMK bahkan mahasiswa, tiada hari tanpa musik, Acara TV setiap hari dipenuhi dengan acara-acar musik, Dahsyat, Inbox, Derings, Histeria, Mantap, Klik, dan lain sebagainya, Di warung-warung musik diputar dari dangdut sampai heavy metal, di sekolah-sekolah saat luang musik juga diputar, di rumah-rumah musik juga dimainkan, bahkan dengan berkembangnya teknologi handphone seharga tidak lebih dari 200 ribu rupiah pun bisa memainkan musik kapanpun dimanapun. So, Music anywhere anytime
Coz Music anywhere anytime, maka kita bisa melihat betapa besarnya pengaruh musik bagi siswa kita yang setiap hari selalu mendengarkan musik. Pepatah bilang alah bisa karena biasa, sesuatu yang biasa didengarkan lama-lama bisa dilakukan juga. Bayangkan anak-anak kita mendengarkan, kemudian mendendangkan lagu-lagu dengan tema selingkuh dan percintaan yang belum mereka pahami, apa yang akan terjadi?, tentunya akan lama kelamaan akan timbul keinginan untuk melakukan hal tersebut, atau paling tidak akan timbul anggapan dalam dirinya bahwa hal-hal yang dibawakan dalam lagu itu menjadi lumrah dan biasa.
Hal inilah yang mengubah (baca:menciptakan) pandangan siswa terhadap suatu hal khususnya terkait dengan cinta. Cinta yang universal yaitu cinta kepada alam, cinta kepada orangtua, cinta kepada Tuhan yang juga termasuk cinta dikerucutkan menjadi hanya cinta kepada lawan jenis. Etika, sopansantun dan bahkan norma agama dan sosial mengabur dalam lagu-lagu bertemakan cinta saat ini juga membuat siswa kita menerjemahkan perwujudan cinta ke lebih dalam kepada aktivitas fisik.
Mungkin anda masih ingat lagu berjudul Aryati karya Ismail Marzuki, jika anda lupa mari saya cukilkan sedikit lirik lagunya
"Dosakah hamba mimpi berkasih dengan tuan
Ujung jarimu kucium mesra tadi malam
Dosakah hamba memuja dikau dalam mimpi
Hanya dalam mimpi"
Lihatlah betapa romantisnya lirik lagu tersebut, dahulu sekedar bermimpi berkasih saja sudah merasa berdosa. Mari kita bandingkan dengan lagu-lagu terkini misalnya lagu Lakukan Dengan Cinta yang dibawakan oleh Mahadewi
"bukannya aku mau
mencari alasan
mencari masalah
untuk tak melakukannya
untuk berkata tidak
untuk berkata jangan
untuk berkata nanti
untuk berkata aku tak bisa
ku tak mau
Cinta cinta cinta
lakukan dengan cinta bila kamu
mau mau mau
aku tak mau bila tanpa cinta"
Kemanakah pikiran kita akan dibawa ketika membaca lirik lagu tersebut. Silahkan anda terjemahkan sendiri. Tetapi Berdasarkan Thesis Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur, WINDY , TRIAS ANGGRAINI yang berjudul REPRESENTASI SEKS BEBAS DALAM LIRIK LAGU ”LAKUKAN DENGAN CINTA” (Studi Semiologi Tentang Representasi Seks Bebas Dalam Lirik Lagu ”Lakukan Dengan Cinta” yang dipopulerkan oleh Mahadewi dan The Law). Tahun 2010 Didapat hasil analisis bahwa lirik lagu ”Lakukan Dengan Cinta” terdapat pesan yang mengisyaratkan bahwa saat ini mempertontonkan kedekatan-kedekatan seperti bermesraan dengan pasangan dapat dengan leluasa dilakukan walapun telihat sangat vulgar. Dari hasil pemaknaan dapat diketahui bahwa lirik lagu ”Lakukan Dengan Cinta” mempresentasikan realitas sosial saat ini dengan menunjukkan tindakan-tindakan yang dilakukan bersama pasangan yang semakin terbuka diungkapkan kepada masyarakat atau publik, dimana dari pengungkapan tersebut dapat menimbulkan efek bagi orang yang melihat ataupun yang mendengarnya. Dalam lirik lagu ”Lakukan Dengan Cinta” disitu ada sebuah ajakan untuk menunjukkan kemesraan dengan pasangan kepada publik meskipun telihat sangat vulgar atau tidak pantas. Bayangkan bagaimana bila siswa kita yang dalam proses pencarian jati dirinya mendengarkan lagu-lagu seperti ini, lalu dengan pola pikir usianya bagaimana kira-kira pandangan mereka terhadap lirik lagu ini dan keterkaitannya dalam kehidupan sehari-hari?
Mari beralih ke lagu lainnya, kali lagu berjudul Selingkuh Sekali Saja-SHE berikut ini:
"ijinkan aku sekali saja
rasakan cinta yang lain
sekali saja ku ingin memeluknya
dan cium bibirnya hanya untuk
biarkan dia dan kenangannya berlalu
kau temukanku telah terjatuh
dalam cobaan terdashyat dari cinta
ku tlah tergoda, aku tak setia
aku khianati kita"
Lalu lagu Jadikan Aku Yang Kedua-Astrid
"jadikan aku yang kedua
buatlah diriku bahagia
walau pun kau takkan pernah
kumiliki selamanya"
Dari kedua lagu tersebut tak heran jika kini punya pacar lebih dari satu adalah hal yang lumrah bagi para siswa. Karena itu jangan terlalu terkejut jika perselingkuhan dalam pernikahan kerap terjadi, kita tidak bisa menyalahkan mereka begitu saja mengingat mereka memandang perselingkuhan sebagai suatu hal yang lumrah dan wajar.
Anda mungkin bertanya-tanya mengapa saya tidak membahas lagu-lagu seperti dangdut atau remix yang diawali Cinta Satu Malam yang mengakibatkan Hamil Duluan lalu diitinggalkan oleh si Pria Keong Racun sehingga harus kemana-kemana membawa Alamat Palsu, karena alamatnya palsu maka tak menemukan si Pria tadi hingga si wanita jadilah Jablai. Tak usah dibahas, hanya membuat kita semua tambah geleng-geleng kepala.
Mengacu pada fenomena lagu-lagu diatas, memaksa saya kembali mencoba untuk memaklumi realita perilaku pelajar dewasa ini, sambil (tetap) geleng-geleng kepala. Satu fakta lagi tentang dunia musik Indonesia adalah bahwa saat ini minim lagu anak-anak sehingga seorang anak usia TK pun harus rela mendengarkan lagu Hamil Duluan. Ironisnya adalah orang tua sekarang bangga mempertontonkan anaknya yang berusia balita bernyanyi dengan lantang.
"Ku hamil Duluan
Sudah tiga Bulan
Gara-gara pacaran tidurnya berduan"
Komentar saya "GUBRAK!!" ada yang salah dengan orangtua yang demikian....
Saya rindu dengan lagu anak-anak dahulu yang mengajarkan penghormatan kepada orang yang lebih tua, saling menghargai sesama teman, mengajak rajin belajar dan hal-hal baik lainnya.
Sekedar mengobati kepala yang letih geleng-geleng terus melihat perilaku siswa kita sekarang ini, sambil berharap yang terbaik bagi mereka, saya mengajak kita semua mendendangkan lagu Pergi Belajar berikut ini.
"oh, ibu dan ayah, selamat pagi
kupergi sekolah sampai kan nanti
selamat belajar nak penuh semangat
rajinlah selalu tentu kau dapat
hormati gurumu sayangi teman
itulah tandanya kau murid budiman"
Ya, Hormati gurumu dan sayangi teman, suatu hal yang begitu asing bagi siswa kita saat ini. Akhirnya, saya hanya ingin mengajak kita semua untuk lebih bijak dalam melihat keseharian anak-anak kita, berikanlah apa-apa yang layak mereka dapatkan dan hindari hal-hal yang tidak sepantasnya bagi mereka.
Pangkalpinang, 26 Oktober 2010
Afrizal, S.Pd
Penikmat Musik dan calon bapak yang khawatir akan perilaku anak-anaknya kelak
(tak bermaksud menyinggung para penikmat lagu-lagu diatas, hanya sebuah refleksi akan kegelisahan)
anaknya yang berusia balita bernyanyi dengan lantang.
"Ku hamil Duluan
Sudah tiga Bulan
Gara-gara pacaran tidurnya berduaan"
Beberapa hari ini tangan rasanya gatal ingin menuliskan uneg-uneg tentang perilaku siswa yang makin hari maki bikin geleng-geleng kepala. Mumpung ada waktu luang, saatnya melampiaskan semua yang ada dikepala lewat tulisan ini, semoga ada manfaatnya.
Menurut Teori Tabularasa dari John Lock, dikatakan bahwa anak yang baru dilahirkan itu dapat diumpamakan sebagai kertas putih yang belum ditulisi (a sheet of white paper avoid of all characters). Pendapat John Locke seperti di atas dapat disebut juga empirisme, yaitu suatu aliran atau paham yang berpendapat bahwa segala kecakapan dan pengetahuan manusia itu timbul dari pengalaman (empiri) yang masuk melalui alat indera. Mengacu pada teori tersebut maka bisa diartikan bahwa sifat dan kepribadian serta perilaku seorang anak sangat besara dipengaruhi oleh lingkungannya.
Berawal dari teori tersebut saya ingin menganalisis lingkungan seperti apa yang mendasari terbentuknya sifat dan perilaku siswa dewasa ini khususnya cara pandang mereka dalam memandang cinta. Saya memulainya dari pertanyaan, Hal apa yang begitu identik dengan siswa dewasa ini, yang ada didekat siswa, selalu dibawa siswa dan hal-hal yang erat kaitannya dengan siswa.
Hal pertama yang terpikirkan oleh saya adalah musik. Saya kira musik merupakan kebutuhan pokok ketiga bagi siswa setelah sandang, pangan dan papan. bahasa mereka 'Gak asik gak ada musik', musik adalah sarana eksistensi bagi remaja, wujud kebahagian dan teman dikala kesepian, yang terpenting adalah musik merupakan pelarian terdekat dari masalah-masalah yang mereka hadapi. Musik dan bernyanyi adalah bagian tak terpisahkan dari dunia remaja yang penuh dengan kedinamisan berpikir dan masa pencarian jati diri. Meminjam sedikit jargon sebuah iklan, With Music, Life is Never Flat.
Beruntungnya, saat ini dunia musik Indonesia berkembang sangat pesat. Diawali dengan lahirnya band fenomenal yang berhasil menjual jutaan copy albumnya di 1999, Sheila On 7 dan disusul oleh Band Padi tak lama kemudian, dunia musik Indonesia seakan tak henti memunculkan penyanyi-penyanyi baru dari berbagai genre musik. Hal ini tentu saja membuat para penikmat musik serasa disurga dengan berbagai pilihan lagu dan genre yang berbeda dari penyanyi-penyayi Indonesia.
Sayangnya, ketatnya persaingan di dunia musik membuat para musisi kita seolah kehabisan ide untuk membuat lagu (baca:lirik) yang berkualitas dan layak untuk didengar. Ketatnya persaingan pula lah yang mungkin memaksa para musisi tersebut untuk memacu diri agar dapat membuat lagu-lagu dengan lirik-lirik yang mampu mengusik para pendengarnya untuk mendengar, menyukai dan akhirnya membeli lagunya.
Pada akhirnya, lirik lagu-lagu yang muncul tahun-tahun belakangan ini sudah mengabaikan estetika dan norma yang berlaku dimasyarakat yang ada. Tema-tema yang dulunya tabu untuk dibicarakan, kini diangkat dengan mudah ke dalam lagu. Tema-tema percintaan tingkat tinggi, perselingkuhan dan kesombongan merupakan tema yang sentral dari para pencipta lagu. Ambilla contoh Lagu Cinta Satu Malam-Melinda, Lakukan Demi Cinta-Mahadewi, Jadikan Aku Yang Kedua-Astrid atau lagu Selir Hati-TRIAD.
Musik identik dengan siswa, dari siswa SD-SMK bahkan mahasiswa, tiada hari tanpa musik, Acara TV setiap hari dipenuhi dengan acara-acar musik, Dahsyat, Inbox, Derings, Histeria, Mantap, Klik, dan lain sebagainya, Di warung-warung musik diputar dari dangdut sampai heavy metal, di sekolah-sekolah saat luang musik juga diputar, di rumah-rumah musik juga dimainkan, bahkan dengan berkembangnya teknologi handphone seharga tidak lebih dari 200 ribu rupiah pun bisa memainkan musik kapanpun dimanapun. So, Music anywhere anytime
Coz Music anywhere anytime, maka kita bisa melihat betapa besarnya pengaruh musik bagi siswa kita yang setiap hari selalu mendengarkan musik. Pepatah bilang alah bisa karena biasa, sesuatu yang biasa didengarkan lama-lama bisa dilakukan juga. Bayangkan anak-anak kita mendengarkan, kemudian mendendangkan lagu-lagu dengan tema selingkuh dan percintaan yang belum mereka pahami, apa yang akan terjadi?, tentunya akan lama kelamaan akan timbul keinginan untuk melakukan hal tersebut, atau paling tidak akan timbul anggapan dalam dirinya bahwa hal-hal yang dibawakan dalam lagu itu menjadi lumrah dan biasa.
Hal inilah yang mengubah (baca:menciptakan) pandangan siswa terhadap suatu hal khususnya terkait dengan cinta. Cinta yang universal yaitu cinta kepada alam, cinta kepada orangtua, cinta kepada Tuhan yang juga termasuk cinta dikerucutkan menjadi hanya cinta kepada lawan jenis. Etika, sopansantun dan bahkan norma agama dan sosial mengabur dalam lagu-lagu bertemakan cinta saat ini juga membuat siswa kita menerjemahkan perwujudan cinta ke lebih dalam kepada aktivitas fisik.
Mungkin anda masih ingat lagu berjudul Aryati karya Ismail Marzuki, jika anda lupa mari saya cukilkan sedikit lirik lagunya
"Dosakah hamba mimpi berkasih dengan tuan
Ujung jarimu kucium mesra tadi malam
Dosakah hamba memuja dikau dalam mimpi
Hanya dalam mimpi"
Lihatlah betapa romantisnya lirik lagu tersebut, dahulu sekedar bermimpi berkasih saja sudah merasa berdosa. Mari kita bandingkan dengan lagu-lagu terkini misalnya lagu Lakukan Dengan Cinta yang dibawakan oleh Mahadewi
"bukannya aku mau
mencari alasan
mencari masalah
untuk tak melakukannya
untuk berkata tidak
untuk berkata jangan
untuk berkata nanti
untuk berkata aku tak bisa
ku tak mau
Cinta cinta cinta
lakukan dengan cinta bila kamu
mau mau mau
aku tak mau bila tanpa cinta"
Kemanakah pikiran kita akan dibawa ketika membaca lirik lagu tersebut. Silahkan anda terjemahkan sendiri. Tetapi Berdasarkan Thesis Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur, WINDY , TRIAS ANGGRAINI yang berjudul REPRESENTASI SEKS BEBAS DALAM LIRIK LAGU ”LAKUKAN DENGAN CINTA” (Studi Semiologi Tentang Representasi Seks Bebas Dalam Lirik Lagu ”Lakukan Dengan Cinta” yang dipopulerkan oleh Mahadewi dan The Law). Tahun 2010 Didapat hasil analisis bahwa lirik lagu ”Lakukan Dengan Cinta” terdapat pesan yang mengisyaratkan bahwa saat ini mempertontonkan kedekatan-kedekatan seperti bermesraan dengan pasangan dapat dengan leluasa dilakukan walapun telihat sangat vulgar. Dari hasil pemaknaan dapat diketahui bahwa lirik lagu ”Lakukan Dengan Cinta” mempresentasikan realitas sosial saat ini dengan menunjukkan tindakan-tindakan yang dilakukan bersama pasangan yang semakin terbuka diungkapkan kepada masyarakat atau publik, dimana dari pengungkapan tersebut dapat menimbulkan efek bagi orang yang melihat ataupun yang mendengarnya. Dalam lirik lagu ”Lakukan Dengan Cinta” disitu ada sebuah ajakan untuk menunjukkan kemesraan dengan pasangan kepada publik meskipun telihat sangat vulgar atau tidak pantas. Bayangkan bagaimana bila siswa kita yang dalam proses pencarian jati dirinya mendengarkan lagu-lagu seperti ini, lalu dengan pola pikir usianya bagaimana kira-kira pandangan mereka terhadap lirik lagu ini dan keterkaitannya dalam kehidupan sehari-hari?
Mari beralih ke lagu lainnya, kali lagu berjudul Selingkuh Sekali Saja-SHE berikut ini:
"ijinkan aku sekali saja
rasakan cinta yang lain
sekali saja ku ingin memeluknya
dan cium bibirnya hanya untuk
biarkan dia dan kenangannya berlalu
kau temukanku telah terjatuh
dalam cobaan terdashyat dari cinta
ku tlah tergoda, aku tak setia
aku khianati kita"
Lalu lagu Jadikan Aku Yang Kedua-Astrid
"jadikan aku yang kedua
buatlah diriku bahagia
walau pun kau takkan pernah
kumiliki selamanya"
Dari kedua lagu tersebut tak heran jika kini punya pacar lebih dari satu adalah hal yang lumrah bagi para siswa. Karena itu jangan terlalu terkejut jika perselingkuhan dalam pernikahan kerap terjadi, kita tidak bisa menyalahkan mereka begitu saja mengingat mereka memandang perselingkuhan sebagai suatu hal yang lumrah dan wajar.
Anda mungkin bertanya-tanya mengapa saya tidak membahas lagu-lagu seperti dangdut atau remix yang diawali Cinta Satu Malam yang mengakibatkan Hamil Duluan lalu diitinggalkan oleh si Pria Keong Racun sehingga harus kemana-kemana membawa Alamat Palsu, karena alamatnya palsu maka tak menemukan si Pria tadi hingga si wanita jadilah Jablai. Tak usah dibahas, hanya membuat kita semua tambah geleng-geleng kepala.
Mengacu pada fenomena lagu-lagu diatas, memaksa saya kembali mencoba untuk memaklumi realita perilaku pelajar dewasa ini, sambil (tetap) geleng-geleng kepala. Satu fakta lagi tentang dunia musik Indonesia adalah bahwa saat ini minim lagu anak-anak sehingga seorang anak usia TK pun harus rela mendengarkan lagu Hamil Duluan. Ironisnya adalah orang tua sekarang bangga mempertontonkan anaknya yang berusia balita bernyanyi dengan lantang.
"Ku hamil Duluan
Sudah tiga Bulan
Gara-gara pacaran tidurnya berduan"
Komentar saya "GUBRAK!!" ada yang salah dengan orangtua yang demikian....
Saya rindu dengan lagu anak-anak dahulu yang mengajarkan penghormatan kepada orang yang lebih tua, saling menghargai sesama teman, mengajak rajin belajar dan hal-hal baik lainnya.
Sekedar mengobati kepala yang letih geleng-geleng terus melihat perilaku siswa kita sekarang ini, sambil berharap yang terbaik bagi mereka, saya mengajak kita semua mendendangkan lagu Pergi Belajar berikut ini.
"oh, ibu dan ayah, selamat pagi
kupergi sekolah sampai kan nanti
selamat belajar nak penuh semangat
rajinlah selalu tentu kau dapat
hormati gurumu sayangi teman
itulah tandanya kau murid budiman"
Ya, Hormati gurumu dan sayangi teman, suatu hal yang begitu asing bagi siswa kita saat ini. Akhirnya, saya hanya ingin mengajak kita semua untuk lebih bijak dalam melihat keseharian anak-anak kita, berikanlah apa-apa yang layak mereka dapatkan dan hindari hal-hal yang tidak sepantasnya bagi mereka.
Pangkalpinang, 26 Oktober 2010
Afrizal, S.Pd
Penikmat Musik dan calon bapak yang khawatir akan perilaku anak-anaknya kelak
(tak bermaksud menyinggung para penikmat lagu-lagu diatas, hanya sebuah refleksi akan kegelisahan)


Komentar
Posting Komentar