I Wanna Be A Teacher, A Great Teacher....

The mediocre teacher tells.  The good teacher explains.  The superior teacher demonstrates.  The great teacher inspires.  ~William Arthur Ward


Yup, tidak pernah mudah menjadi guru, apalagi guru yang benra-benar, guru dalam arti orang yang digugu dan ditiru bukan guru dalam arti profesi seperti kebanyakn orang sekarang ini. saya seringkali tidak terima ketika ada segelintir teman-teman struktural sering berkata " enak ya kalian jadi guru, tiap hari pulang cepat, tunjangan banyak, bla...bla...bla...". saya berpikir bahwa jika yang mereka maksud mudah adalah guru sebagai pekerjaan, oke, saya setuju. tetapi jika mereka bicara guru sebagai seorang pendidik saya kira saya akan berteriak lantang bahwa mereka SALAH BESAR berbicara seperti itu.

Menjadi seorang guru (baca:pendidik) tidak sekedar masalah setengah hari kerja, menerima berbagai tunjangan dan berbagai kemudahan-kemudahan lainnya, tapi juga berbicara pengabdian, tanggungjawab moral, transfer pengetahuan, pembentukan sikap dan merancang masa depan anak bangsa.

Pengabdian
Salah seorang siswa saya, suatu ketika menghubungi saya untuk berkonsultasi mengenai karya tulis yang diajukannya untuk keperluan beasiswa. Ia mengambil tema tentang guru dan pendidikan. saat itu disebutkannya bahwa pendidikan Indonesia masih berkualitas rendah karena gaji guru yang juga rendah. menurutnya jika gaji guru semakin tinggi akan bergaris lurus dengan kualitas pendidikan Indonesia. Dengan tegas saya sampaikan bahwa menjadi seorang guru bukan sekedar soal uang semata, meskipun saya menyadari bahwa guru juga manusia yang membutuhkan uang. tetapi menjadi guru adalah panggilan jiwa, menjadi seorang guru bukan soal materi tapi soal pengabdian, mengabdikan diri bagi usaha-usaha mencerdaskan anak bangsa. jika pengabdian tersebut telah terlaksana dengan baik niscaya gaji dan tunjangan lain-lain itu adalah harga yang layak bagi pengabdian tersebut.

Tanggungjawab Moral
Mengabdikan diri dan tangungjawab moral menurut saya adalah suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kaitannya dengan profesi guru sebagai pendidik. pengabdian adalah mengupayakan yang terbaik dalam menjalankan tugas dalam pekerjaan sedangkan tangungjawab moral adalah upaya memastikan bahwa apa yang telah diberikan atau diabdikan memberikan manfaat baik manfaat jangka pendek maupun jangka panjang baga subjek pendidikan itu sendiri yaitu siswa. Pendidikan bukan sekedar proses sekali pakai, proyek sekali jadi ataupun proyek insidental semata, pendidikan adalah pembentukan kebudayaan, pembentukan karakteristis yang berkelanjutan yang hasilnya tidak selalu langsung terlihat. Pendidikan menanamkan kebiasaan yang baik, memberikan gambaran paya boleh dan tidak boleh, menuntun seseorang mengembangkan minat dan bakatnya, pendidikan merancang cita-cita dan langkah yang harus diambil untuk mencapai langkah-langkah tersebut. Guru sebagai aktor pelaksana pendidikan adalah sosok sentral dan terdepan dalam melakukan hal-hal tersebut meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa guru (sekali lagi) adalah manusia biasa tempatnya lupa dan khilaf.

Pembentukan sikap
Ilmu psikologi jelas menyebutkan bahwa pembentuk sikap yang pertama dan utama adalah keluarga. Keluarga lah yang menjadikan karakter dasar seorang anak. karena faktor keluarga, baik faktor kondisi dan situasi keluarga maupun faktor dorongan keluarga memegang peranan penting bagi pembentukan sikap seorang anak. Seringkali ketidakpedulian orang tua terhadap pembentukan sikap dan perilaku seorang anak mengakibatkan munculnya anak-anak yang sulit dikontrol dan keras kepala. Apa yang akan dihasilkan oleh sebuah keluarga yang membiarkan anak-anaknya menonton sinetron sejak kecil, yang membiarkan anak-anaknya bergaul dengan orang dewasa yang kadang tidak terkontrol dalam berbicara, yang mendidik anaknya dengan kekerasan, atau orang tua yang tidak pernah mau mendengarkan anaknya bahkan ada keluarga yang justru terlalu menuruti semua kemauan anak-anaknya?. bukankah saat ini banyak orang tua yang tidak cukup mampu menjadi orang tua, yang belum menyadari dirinya adalah orangtua yang menjadi panutan bagi anak-anaknya.
Hingga tiba masanya disekolah, siswa dengan berbagai karakter yang saat ini kebanyakan adalah karakter siswa yang susah untuk diatur dan cenderung pembangkang berkumpul di sekolah. Dan para orang tua mengantarkan mereka, menyerahkan anak-anak mereka kepada guru, sambil seoalh-olah berkata "ini anak saya, saya serahkan pada anda, jadikan mereka  anak dambaan semua orang". lalu pendidikan yang dimulai pukul 07.15 dan berakhir pukul 14.00 siang itu diserahi tanggungjawab yang begitu besar untuk menjadikan siswa-siswa mereka menjadi "ANAK DAMBAAN SEMUA ORANG".
Berkaca pada ilustrasi diatas, maka saya berpikir bahwa begitunya beratnya ekspektasi masyarakat dan tanggungjawab sebuah institusi pendidikan khususnya guru. belum lagi, kebanyakan orang tua tidak cukup mengerti bahwa pendidikan perlu mendapat dukungan dari mereka. apa gunanya seorang guru berkoar-koar memerintahkan siswanya mengerjakan PR dirumah sementara orang tua tidak pernah menyuruh anak-anaknya belajar. Ah....betapa "mudah"nya menjadi seorang guru.

Perencana masa depan
Apa urusannya masa depan orang lain dengan kita?. di dunia yang semakin individual semakin sedikit orang yang peduli dengan orang lain, apalagi masa depan orang lain. tetapi ketika memutuskan menjadi seorang guru, maka seorang guru harus mau dan bersedia untuk membantu dan mengarahkan masa depan setiap siswanya. memberikan gambaran kepad siswa mengenai cita-citanya, membantu siswa menentukan cita-citanya dan membantu siswa mengambil langkah-langkah sistematis untuk mencapai cita-citanya tersebut. lalu bagaimana seorang guru bisa dan mampu melakukan hal tersebut? yang paling awal adalah mengidentifikasi minat dan bakat siswanya (baca:setiap siswa), memahami karakteristik umum siswa tersebut (sekali lagi:setiap siswa), dan terbuka atas segala informasi terkait hal-hal yang dapat memberikan kesempatan kepada siswanya untuk maju dan mencapai cita-cita.just wanna say, it's so complicated task...

back to the teacher as a human....guru juga manusia, yang butuh waktu untuk dirinya sendiri, yang ingin membahagiakan keluarganya, yang ingin mengembangkan diri, meraih kesenangan pribadi dan perilaku humanistik lainnya. dengan seabreg kewajibnya diatas dan keinginan mengaktulisasikan diri jelas bahwa tidak pernah mudah menjadi seorang guru yang digugu dan ditiru...

But, anyway (tanpa busway), meskipun demikian, i'm still wanna be a teacher, A GREAT TEACHER

Pangkalpinang, 2 Mei 2011
Renungan Hari Pendidikan Nasional
Untuk Istriku Tercinta yang kini juga harus menjadi Guru
Sebuah refleksi untuk memotivasi diri sendiri
Afrizal, S.Pd

Komentar

Postingan Populer